Thursday, May 13, 2010

> Menghubungkan Isi Puisi dengan Kenyataan

By :Taufiqullah Neutron (Masteropik)

Latar Belakang Sosial-Budaya Pemahaman puisi tidak dapat dilepaskan dari latar belakang kemasyarakatan dan budayanya. Untuk dapat memberikan makna sepenuhnya kepada sebuah sajak, selain dianalisis struktur intrinsiknya (secara struktural) dan dihubungkan dengan kerangka kesejarahannya, analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosialbudayanya (Teeuw, 1983: 61–62). 
 
Karya sastra mencerminkan masyarakatnya dan dipersiapkan oleh keadaan masyarakat dan kekuatan-kekuatan pada zaman tertentu (Abrams, 1981:178) mengingat bahwa sastrawan itu adalah anggota masyarakat.  Seorang penyair tidak dapat lepas dari pengaruh sosial-budaya masyarakatnya. Latar sosial-budaya itu terwujud dalam tokoh-tokoh yang dikemukakan, sistem kemasyarakatan, adat-istiadat, pandangan masyarakat, kesenian, dan benda-benda kebudayaan yang terungkap dalam suatu karya sastra.  
 
Penyair Indonesia berasal dari bermacam-macam, sesuai dengan jumlah suku bangsa Indonesia. Dengan demikian, ada latar sosialbudaya Sulawesi, Kalimantan, Aceh, Batak, Minangkabau, Melayu, Sunda, Jawa, Bali, Madura, dan sebagainya. Untuk memahami dan memberi makna sajak yang ditulis oleh penyair Sunda, Bali, Jawa, dan sebagainya diperlukan pengetahuan tentang latar sosialbudaya yang melatarinya. 
 
Misalnya, untuk memahami sajak-sajak Linus Suryadi yang berlatar budaya wayang, begitu juga sebagian sajak Subagio Sastrowardojo, pembaca harus memiliki pengetahuan tentang wayang.  Beberapa sajak Subagio Sastrowardojo yangbtermuat dalam Keroncong Motinggo, adalah "Kayon", "Wayang", "Bima", "Kayal Arjuna", dan "Asmaradana". Dalam pembuatannya, diperlukan pengetahuan tentang wayang dan cerita wayang. Dalam "Asmaradana" diceritakan episode cerita Ramayana. 
 
Asmaradana adalah nama sebuah tembang Jawa yang dipergunakan untuk menceritakan percintaan atau berisi percintaan. Sita dibakar untuk membuktikan kesuciannya. Ia belum terjamah oleh Rahwana yang menculiknya dari Rama. Namun, dalam sajak "Asmaradana" ini cerita diubah oleh Subagio, yaitu Sita memang melakukan sanggama dengan raksasa (Rahwana) yang melarikannya. 
Hal ini dilakukan  untuk mengemukakan pandangan atau pendapat penyair sendiri bahwa manusia itu tidak dapat terlepas dari nalurinya. Dalam cerita Ramayana (wayang), Sita tidak terbakar di api suci. Ini membuktikan kesuciannya. 
 
Perhatikan sajak Subagio Sastrowardoyo berikut.  Asmaradana Sita di tengah nyala api tidak menyangkal betapa indahnya cinta berahi Raksasa yang melarikannya ke hutan begitu lebat bulu jantannya dan Sita menyerahkan diri Dewa tak melindunginya dari neraka tapi Sita tak merasa berlaku dosa sekedar menurutkan naluri Pada geliat sekarat terlompat doa jangan juga hangus dalam api sisa mimpi dari sanggama (1975: 89)  
 
Orang tidak dapat memahami sajak "Asmaradana" itu tanpa pengetahuan wayang atau cerita Ramayana. Cerita itu merupakan episode akhir dari cerita Rama. Sesudah Rama dapat mengalahkan Rahwana dan membunuhnya, Rahwana, Raja Alengka yang mencuri Sita, maka Rama dapat berjumpa kembali dengan Sita isterinya. 
Akan tetapi, Rama meragukan kesucian Sita, betapapun Sita menyatakan bahwa ia tidak pernah terjamah Rahwana.  Untuk membuktikan kesuciannya itu Sita bersedia dibakar, bila terbakar berarti ia pernah dijamah (bersenggama dengan) Rahwana, jika tidak terbakar berarti ia masih tetap suci. 
 
Dalam cerita wayang, Sita memang tidak terbakar karena ditolong oleh dewa. Ia memang sungguh masih suci, ia selalu menolak jika dirayu oleh Rahwana. Akan tetapi, dalam sajak "Asmaradana" itu ceritanya dengan sengaja diubah oleh Subagio untuk mengemukakan pikirannya sendiri. Ini menunjukkan kreativitas Subagio sebagai seorang penyair.  
Untuk menunjukkan pemahaman sajak dengan memerhatikan latar sosial yang mendasarinya, berikut ini adalah sajak karya Darmanto Jt. (1980: 40). untuk mengemukakan pandangan atau pendapat penyair sendiri bahwa manusia itu tidak dapat terlepas dari nalurinya. 
 
Dalam cerita Ramayana (wayang), Sita tidak terbakar di api suci. Ini membuktikan kesuciannya. Perhatikan sajak Subagio Sastrowardoyo berikut.   
Isteri
~ isteri mesti digemateni ia sumber berkah dan rejeki. (Towikromo, Tambran, Pundong, Bantul) Isteri sangat penting untuk ngurus kita Menyapu pekarangan Memasak di dapur Mencuci di sumur mengirim rantang ke sawah dan ngeroki kita kalau kita masuk angin Ya. Isteri sangat penting untuk kita  la sisihan kita, kalau kita pergi kondangan la tetimbangan kita, kalau kita mau jual palawija la teman. belakang kita, kalau kita lapar dan mau makan la sigaraning nyawa kita, kalau kita la sakti kita!

Ah. Lihatlah. la menjadi sama penting dengan kerbau, luku, sawah, dan pohon kelapa. la kita cangkul malam hari dan tak pernah ngeluh walau cape la selalu rapi menyimpan benih yang kita tanamkan dengan rasa syukur: tahu terima kasih dan meninggikan harkat kita sebagai lelaki. la selalu memelihara anakanak kita dengan bersungguh-sungguh seperti kita memelihara ayam, itik, kambing, atau jagung. Ah. Ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika kita mulai melupakannya: Seperti lidah ia di mulut kita tak terasa Seperti jantung ia di dada kita tak teraba Ya. Ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika kita mulai melupakannya.

Jadi waspadalah! Tetap. madep, manteb Gemati, nastiti, ngati-ati Supaya kita mandiri - perkasa dan pinter ngatur hidup Tak tergantung tengkulak, pak dukuh, bekel atau lurah Seperti Subadra bagi Arjuna makin jelita ia di antara maru-marunya: Seperti Arimbi bagi Bima jadilah ia jelita ketika melahirkan jabang tetuka; Seperti Sawitri bagi Setyawan la memelihara nyawa kita dari malapetaka. Ah.Ah.Ah Alangkah pentingnya isteri ketika kita mulai melupakannya. Hormatilah isterimu Seperti kau menghormati Dewi Sri Sumber hidupmu. * Makanlah Karena memang demikianlah suratannya! - Towikromo.     
 
Penyair Darmanto Jt. hidup dalam lingkungan sosial-budaya Jawa, maka ia tidak terhindar dari latar kebudayaan Jawa yang berupa cerita-cerita Jawa dan wayang Jawa. Begitu juga ia tidak terhindar dari pandangan hidup masyarakat atau ia akrab dengan pandangan hidup orang Jawa. Semuanya itu tergambar dalam sajak-sajaknya, di antaranya sajak "Isteri" ini.  Dalam sajak "Isteri" ini tergambar lingkungan sosial-budaya kehidupan Jawa. Hidup-mati petani itu ditentukan oleh sawah, kerbau, dan alat-alat pertanian, juga ditentukan berhasil atau tidaknya menanam padi. Menurut pandangan petani Jawa, tanaman padi akan subur dan berbuah lebat, serta panenan akan berhasil jika mendapat  berkah dan restu Dewi Sri, dewi padi. 
 
Oleh karena itu, para petani Jawa sangat menghormati dan menjunjung tinggi Dewi Sri. Mereka membuat selamatan dan sesaji untuk mendapatkan berkahnya, yaitu pada waktu mulai menanam padi dan waktu panen. Bagi petani, kerbau dan alat-alat pertanian itu sangat penting bagi kelangsungan hidupnya, bahkan merupakan hidup matinya. Oleh karena itu, isteri yang sangat penting itu "hanya" disamakan dan disejajarkan dengan kerbau. Bagi petani, dipandang dari sudut pandang sosial-budaya pertanian, penyejajaran isteri dengan kerbau itu tidak bermaksud merendahkan kedudukan istri sebab kerbau itu sangat penting, merupakan hidup-matinya pula.  
 
Pada umumnya, dalam pandangan sosial-budaya masyarakat Jawa, lebih-lebih di dalam masyarakat petani di desa, kedudukan dan guna isteri itu seperti tergambar dalam bait pertama: menyapu pekarangan, memasak di dapur, mengirim rantang ke sawah, yaitu mengirim makanan dengan rantang pada waktu pak tani bekerja di sawah, dan ngeroki (menggosok-gosokkan uang logam berkali-kali diminyaki kelapa atau balsem sampai kulit punggung dan dada menjadi merah bergaris-garis secara teratur) kalau suami masuk angin.  
 
Hal ini sudah merupakan kebiasaan yang turun-temurun. Jadi, yang kelihatannya lucu atau aneh bagi masyarakat atau bangsa lain itu sesungguhnya tidak aneh dan wajar saja. Dengan memahami latar sosial-budaya demikian, orang dapat memahami kesungguhan sajak itu bahwa istri petani itu sangat penting dan cukup terhormat kedudukannya. Bukan hanya sebagai benda kekayaan, pelayan, ataupun budak suami. Dengan pengertian demikian, pembaca dapat memberikan penilaian yang tepat terhadap sajak "Isteri" itu.  
 
Dalam latar budaya petani Jawa, Dewi Sri itu sangat terhormat seperti telah diuraikan di awal. Jadi, istri petani itu sesungguhnya sangat terhormat karena disamakan penghormatannya terhadap Dewi Sri (bait terakhir): "Hormatilah isterimu seperti kau menghormati Dewi Sri sumber hidupmu". Di samping itu, isteri juga disamakan dengan Subadra istri Arjuna. Dalam cerita wayang, Arjuna itu banyak istrinya, yang utama adalah Subadra. Subadra itu istri yang lembut hatinya, cantik, dan baik hati. Kepada maru-marunya ia bertindak adil, tidak membenci, penuh kasih sayang hingga marumarunya pun baik kepadanya.  
 
Begitu juga jika dibandingkan dengan Arimbi istri Bima, yang melahirkan Bambang Tetuka (Gatotkaca), ia memelihara anaknya dengan penuh kasih sayang. Bahkan, isteri petani juga dibandingkan dengan Sawitri, seorang isteri yang karena cintanya kepada suami, ia memaksa Dewa Yama, dewa maut yang mencabut nyawa Setyawan suaminya. Setyawan sudah sampai takdirnya untuk mati, namun Sawitri tetap meminta kepada Dewa Yama untuk mengembalikan nyawanya. Akhirnya, Yama mengabulkannya, mengembalikan nyawa ke tubuh Setyawan dengan janji bahwa hidup Setyawan itu harus ditebus dengan setengah masa hidup Sawitri sendiri. 
 
Dengan demikian, Setyawan hidup kembali dan mereka hidup berbahagia kembali.  Dari paparan tersebut, terlihat jelas bahwa latar sosial-budaya masyarakat memang berpengaruh terhadap kesusastraan. Jadi, dapat dikatakan bahwa dalam sebuah karya sastra terdapat cerminan masyarakat yang mewakili zaman tertentu. Hal tersebut dimunculkan oleh pengarang sebagai bentuk reaksinya dalam menanggapi berbagai gejala sosial yang ada pada masanya. Selain itu, melalui karya sastra, pengarang pun mengutarakan kritiknya terhadap zaman.




back to top