Showing posts with label Bab 8. Mengerjakan Beton. Show all posts
Showing posts with label Bab 8. Mengerjakan Beton. Show all posts

Monday, February 21, 2011

> Acuan dan Perancah

By :Taufiqullah Neutron (Masteropik)

Acuan (cetakan) dan tiang acuan (perancah) adalah suatu
konstruksi sementara, yang gunanya untuk mendukung terlaksananya
pengerjaan adonan beton yang dicorkan sesuai dengan bentuk yang
dikehendaki. Jadi acuan dan perancah harus dapat menahan berat baja
tulangan, adukan beton yang dicorkan, pekerja-pekerja pengecor beton
dan lain sebagainya, sampai beton mengeras, sehingga dapat menahan
berat sendiri dan beban kerja.

Acuan beton terdiri dari bidang bagian bawah dan samping. Papanpapan
bagian bawah dari acuan yang tidak terletak langsung di atas
tanah dipikul oleh gelagar acuan, sedangkan gelagar acuan didukung oleh
perancah. Pada konstruksi beton yang langsung terletak di atas tanah,
bagian bawah tidak perlu diberi cetakan, tetapi cukup dipasang lantai
kerja dari beton dengan campuran 1 semen : 3pasir : 5 krikil dengan
ketebalan 5 cm. Jadi, yang perlu diberi papan acuan bagian samping saja.

Untuk pekerjaan beton yang akan difinishing dengan plesteran,
papan acuan tidak perlu dihaluskan, tetapi bila pekerjaan beton tidak
memerlukan finishing, maka permukaan acuan harus licin. Untuk
pekerjaan tersebut biasnya digunakan acuan dari multipleks, plywood,
atau pelat baja.

1. Bahan Acuan dan Perancah

Papan acuan dan tiang perancah yang digunakan biasanya dari
kayu yang harganya murah dan mudah dikerjakan. Juga dapat
dipergunakan pelat-pelat baja, pelat seng bergelombang, plywood dan
lain sebagainya. Meskipun acuan dan perancah dibuat dari kayu yang
murah, tetapi kayunya harus cukup baik dan tidak boleh terlalu basah,
sebab kayu yang terlalu basah akan mudah melengkung dan pecah.

Ukuran papan acuan biasanya adalah tebal 2-3 cm dan lebarnya 15-20
cm. Untuk perancah biasanya digunakan kasau 4/6 atau 5/7 cm, namun
banyak juga yang menggunakan perancah dari bambu.
Perkembangan yang terjadi dewasa ini, banyak digunakan acuan
yang telah siap rakit, papan acuan dari pelat baja, sedang perancahnya
menggunakan frame scafolding.

2. Persyaratan Acuan dan Perancah

Syarat-syarat mengenai acuan dan perancah adalah sebagai berikut;
a. Dapat menghasilkan konstruksi akhir yang mempunyai bentuk,
ukuran, dan batas-batas sesuai dengan yang ditunjukkan oleh
gambar kerja.
b. Kokoh dan cukup rapat, sehingga dapat dicegah adanya kebocoran
adukan beton.
c. Harus diberi ikatan-ikatan secukupnya, sehingga dapat terjamin
kedudukan dan bentuk yang tetap.
d. Terbuat dari bahan yang tidak mudah menyerap air dan
direncanakan sedemikian rupa, sehingga mudah dibongkar tanpa
menyebabkan kerusakan beton.
e. Bersih dari kotoran serbuk gergaji, potongan kawat pengikat dan
kotoran lainnya.
f. Apabila acuan dan perancah harus memikul beban yang besar
dan/atau dengan bentang yang besar atau memerlukan bentuk
khusus, maka harus dilakukan perhitungan dan gambar kerja
khusus.

3. Perencanaan Acuan

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam merencanakan/membuat
acuan dan perancah adalah;
a. Kecepatan dan cara pengecoran beton.
b. Beban yang harus dipikul, termasuk beban, horisontal dan beban kejut.
c. Selain kekuatan dan kekakuan acuan, kestabilitas juga perlu
diperhitungkan dengan baik.
d. Tiang-tiang acuan dari kayu harus dipasang di atas papan kayu
yang kokoh dan mudah distel dengan baji. Tiang-tiang acuan
tersebut tidak boleh mempunyai lebih dari satu sambungan yang
tidak disokong ke arah samping. Bambu sebaiknya tidak digunakan
sebagai tiang acuan.
Read More - > Acuan dan Perancah

> Pemotongan dan PembengkokanTulangan/Pembesian

By :Taufiqullah Neutron (Masteropik)

Pemotongan baja beton dengan garis tengah kecil biasanya
digunakan gunting baja beton dengan tangan,sedangkan untuk garis
tengah lebih besar digunakan mesin gunting yang digerakkan dengan tangan.
Untuk pemotongan baja beton dengan jumlah besar lebih
ekonomis bila dikerjakan dengan mesin gunting yang digerakkan
dengan motor.

Pemotongan baja tulangan dengan garis tengah besar
tetapi dengan jumlah sedikit sering menggunakan alat pemotong
gergaji besi tangan. Pemotongan baja tulangan harus sesuai dengan
panjang yang telah ditentukan, kemudian batang tersebut harus
dibengkokkan menurut bentuk dan ukuran pada daftar bengkok.

Kedua ujung baja tulangan diberi kait (bengkokan) yang
bentuknya dapat bulat, serong, atau siku-siku. Bentuk kait pada
tulangan balok, kolom, dan sengkang harus berbentuk bulat atau
serong, sedang bentuk kait pada tulangan pelat boleh berbentuk sikusiku.

Read More - > Pemotongan dan PembengkokanTulangan/Pembesian

> Melaksanakan Perawatan Beton

By :Taufiqullah Neutron (Masteropik)

1. Perawatan Beton Sehabis Dicor.
Selama 24 jam sesudah selesai dicor, beton harus dilindungi
terhadap pengaruh hujan lebat, air mengalir, getaran. Selama 2 minggu
setelah dicor harus dilindungi terhadap panas matahari. Cara
perlindungannya adalah dengan menutup permukaan beton
menggunakan pasir basah, menutup dengan karung-karung basah,
atau menyirami dengan air.

2. Pembongkaran Acuan dan Perancah

Cara pembongkaran cetakan dan acuan adalah sebagai berikut;
a. Acuan dan perancah hanya boleh dibongkar apabila bagian
konstruksi tersebut telah mencapai kekuatan yang cukup untuk
memikul berat sendiri dan beban-beban pelaksanaan yang bekerja
padanya. Waktu pembongkaran biasanya 28 hari setelah selesai
pengecoran.

b. Pada bagian-bagian konstruksi di mana akibat pembongkaran
cetakan dan acuan akan bekerja beban-beban yang lebih tinggi
daripada beban rencana, maka cetakan dan acuan dari bagianbagian
konstruksi itu tidak boleh dibongkar selama keadaan
tersebut tetap berlangsung. Bagian-bagian konstruksi yang
keropos harus segera diperbaiki dengan melakukan penambalan.


Read More - > Melaksanakan Perawatan Beton

> Membuat Pengadukan Beton.

By :Taufiqullah Neutron (Masteropik)

Pengadukan beton dapat dilakukan dengan beberapa 2 cara,
yaitu; pengadukan manual dan pengadukan dengan molen.

Cara pengadukan beton secara manual adalah sebagai berikut;
a. Pengadukan beton dengan tangan harus dilakukan di atas bak
dengan dasar lantai dari papan kayu atau dari pasangan yang
diplester. Hal tersebut dilakukan agar kotoran atau tanah tidak
mudah tercampur dan air pencampur tidak meluap keluar dari
campuran.

b. Pengadukan beton dengan jumlah besar, sebaiknya dilakukan
dibawah atap agar terlindung dari panas matahari dan hujan.

c. Pengadukan beton manual biasanya menggunakan perbandingan
volume. Yang lazim digunakan di lapangan adalah dengan
membuat kotak takaran untuk perbandingan volume pasir, semen,
dan krikil.

d. Urutan pencampuran adukannya adalah; pasir dan semen yang
sudah ditakar dicampur kering di dalam bak pengaduk, lalu krikil
dituangkan dalam bak pengaduk kemudian diaduk sampai merata.
Setelah adukan merata, tuangkan air sesuai kebutuhan, aduk
sampai campuran merata dan sesuai dengan persyaratan.

Untuk pengadukan menggunakan molen, prinsip dasarnya sama
dengan pengadukan secara manual, hanya proses pencampuran bahan
adukan beton dilakukan di dalam molen yang terus menerus berputar.
Hasil adukan beton dengan menggunakan molen lebih baik dan lebih
merata dibandingkan dengan proses pengadukan secara manual.
Read More - > Membuat Pengadukan Beton.

> Persyaratan Pengadukan Beton

By :Taufiqullah Neutron (Masteropik)

Pengadukan beton disyaratkan sebagai berikut;
a. Pengadukan beton sebaiknya dilakukan dengan mesin pengaduk
(molen). Mesin pengaduk harus dilengkapi dengan alat-alat yang
dapat mengukur dengan tepat jumlah agregat, semen, dan air
pencampur.

b. Selama pengadukan berlangsung, kekentalan adukan beton
harus diawasi terus menerus dengan jalan memeriksa slump
pada setiap campuran beton yang baru. Besarnya slump
dijadikan petunjuk untuk menentukan jumlah air pencampur yang
tepat sesuai dengan faktor air semen yang diinginkan.

c. Waktu pengadukan bergantung pada kapasitas molen, volume
adukan, jenis dan susunan butir agregat, dan nilai slump. Secara
umum, waktu pengadukan minimal 1,5 menit setelah semua
bahan-bahan dimasukkan ke dalam molen. Setelah selesai,
adukan beton harus memperlihatkan susunan warna yang merata.

d. Apabiia karena sesuatu hal adukan beton tidak memenuhi
syarat minimal, misalnya terlalu encer karena kesalahan
dalam pemberian jumlah air pencampur, mengeras sebagian,
atau tercampur dengan bahan-bahan asing, maka adukan ini
tidak boleh dipakai dan harus disingkirkan dari tempat pelaksanaan.
Read More - > Persyaratan Pengadukan Beton
back to top