Showing posts with label Bab 8. Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Bab 8. Kehidupan. Show all posts

Thursday, May 13, 2010

> Mengekspresikan Tokoh

By :Taufiqullah Neutron (Masteropik)

Sekarang, Anda akan belajar lebih mendalam mengenai tahap mengekspresikan perilaku dan dialog para tokoh. Sebagai pengetahuan bagi Anda, berikut ini tahap-tahap saat akan mementaskan drama. 
1. Membaca umum; yaitu membacakan dialog-dialog secara bergantian mulai dari awal sampai akhir cerita. Dalam membaca ini, tidak berdasarkan dialog-dialog yang akan diucapkan para pemain pada pelaksanaan pementasan, tetapi semua dialog pemain lain pun dibacakan secara bergantian. 
 
Lebih baik posisi duduk para pemain membentuk lingkaran sehingga dialogdialog itu dibacakan searah jarum jam secara bergantian.  Manfaat latihan tahap ini, agar setiap pemain mengetahui semua dialog lawan bermainnya dan juga lebih memperdalam berintonasi, mengatur cepat lambatnya suara, dan memantapkan pengetahuan jalannya cerita.  
 
2. Membaca terpusat; pada dasarnya latihan membaca terpusat ini sama dengan latihan membaca umum, tetapi dalam tahap ini pembacaan dilakukan berdasarkan dialog yang akan diperankannya kelak oleh setiap pemain. Latihan ini bermanfaat  untuk melancarkan percakapan antarpemain, melatih mimik atau ekspresi wajah, dan meningkatkan penguasaan jalan cerita secara menyeluruh.  
 
3. Berlatih akting dan blocking; dalam tahap ini, Anda berlatih kegiatan akting dan blocking yang dituntut atau yang sesuai dengan teks drama yang akan kamu pentaskan. Dalam latihan ini, sutradara sudah mempunyai gambaran, bagaimana akting dan blocking yang harus dilakukan para pemain dalam pementasan nanti. 
Tidak semuanya bergantung pada sutradara, para pemain pun harus tahu bagaimana teknik muncul yang baik, bagaimana mimik dan gerak yang sesuai dengan tuntutan naskah, bagaimana menonjolkan perasaan dan pikiran dalam dialog-dialog yang Anda ucapkan.  
 
Setiap gerak, isyarat, dan mimik harus mempunyai arti dan mendukung setiap dialog yang Anda ucapkan. Di samping gerak dan ekspresi, Anda pun harus memerhatikan di mana Anda harus pindah dari posisi ke posisi lainnya. Perpindahan ini pun harus luwes sehingga penonton dapat menangkap jalan cerita dengan logis. Pendek kata, jangan sampai ada permainan atau gerak yang mati.  
 
4. Observasi; latihan-latihan tersebut akan lebih baik jika dilandasi penghayatan yang dalam. Bagaimana latihannya? Anda berobservasi atau mengamati peristiwa-peristiwa atau kebiasaan-kebiasaan di lingkungan sehari-hari. Apabila kamu akan memerankan seorang pengemis, kamu harus tahu gerak, sifat, dan kebiasaan pengemis itu. 
 
Gerakan-gerakan itu Anda tiru sesuai dengan pengemis itu sendiri.  Dalam latihan serta pelaksanaan simulasi nanti, sukma pengemis itu harus dihadirkan dalam suasana kamu sebagai pengemis dalam peran lakon tersebut. Namun, tetap sesuai dengan asas pengendalian dalam akting, Anda harus sadar bahwa semua itu hanya suatu permainan belaka. 
 
Kebiasaan-kebiasaan pun harus kamu latih dengan baik, seperti membiasakan penggunaan alat-alat yang akan digunakan dalam pementasan nanti atau disebut juga hand prop. Misalnya memainkan rokok, kaca mata, tas, dan tongkat.  Tujuan semua ini agar Anda tidak kaku lagi dalam menggunakan alat-alat tersebut dalam pementasan nanti sehingga gerakangerakanmu wajar, tidak seperti dibuat-buat. 
 
5. Uji coba; setelah Anda berlatih secara intensif, saatnya hasil latihan itu diujicobakan dengan memperhatikan hal-hal berikut:
a. semua pemain sudah hafal teks di luar kepala; 
b. akting dan blocking yang dituntut dalam simulasi itu sudah dikuasai oleh semua pemain; 
c. alat-alat yang diperlukan sudah siap untuk dipakai dalam uji coba termasuk kostum.  Tokoh-tokoh dalam drama terdiri atas peran tokoh protagonis, dan antagonis. 
 
Sifat dan kedudukan tokoh cerita di dalam suatu karya sastra drama beraneka ragam. Ada yang bersifat penting dan digolongkan kepada tokoh penting (major) dan ada pula yang tidak terlalu penting dan digolongkan kepada tokoh pembantu (minor).  Selain itu, ada juga tokoh yang berkedudukan sebagai protagonis, yaitu tokoh yang pertama-tama berprakarsa dan dengan demikian berperan sebagai penggerak cerita. 
 
Karena perannya itu, protagonis adalah tokoh yang pertama-tama menghadapi masalah dan terlibat  dalam kesukaran-kesukaran. Biasanya kepadanya pula pembaca atau penonton terutama berempati. Lawan protagonis adalah antagonis. Antagonis berperan sebagai penghalang dan pembawa masalah bagi protagonis. Tokoh lain yang kedudukannya penting pula dalam cerita adalah kepercayaan (confidant)/tritagonis. 
 
Tokoh ini menjadi kepercayaan protagonis dan/atau antagonis. Dengan adanya tokoh kepercayaan, protagonis dan/atau antagonis dapat mengungkapkan isi hatinya di pentas dan oleh karena itu memberi peluang lebih besar kepada pembaca atau penonton untuk mengenal watak dan niat tokoh-tokoh dengan lebih baik.
Read More - > Mengekspresikan Tokoh

> Mengidentifikasi Pementasan Drama

By :Taufiqullah Neutron (Masteropik)

Pernahkah Anda berkhayal menjadi aktor di atas pentas? Mungkin pula kita pernah merasa kagum akan penjiwaan seorang aktor atas tokoh yang dimainkannya. Anda dapat menangkap kesankesan dari drama yang dipentaskan. Sebenarnya, apa yang Anda tonton adalah cerminan kehidupan itu sendiri. 
 
Sudahkah Anda menjadi penonton drama yang apresiatif dan kritis?  Suatu pementasan drama yang Anda tonton akan lebih bermakna jika Anda mampu menangkap unsur-unsur yang ada di dalamnya. Dengan demikian, Anda akan mengetahui lebih jauh bahwa di balik karya pementasan drama, terdapat bagian yang dapat kita maknai. 
 
Untuk mengetahui unsur apa saja yang dapat kita apresiasi dari karya pementasan drama, berikut penjelasannya.  
1. Pelaku dan Perwatakan 
Penokohan atau perwatakan adalah keseluruhan ciri-ciri jiwa seorang tokoh dalam lakon drama. Seorang tokoh bisa saja berwatak sabar, ramah, dan suka menolong. Sebaliknya, bisa saja tokoh lain berwatak pemberang, ringan tangan, dan sangat keji. Karakter ini diciptakan penulis lakon untuk diwujudkan oleh pemain (aktor) yang memerankan tokoh itu.  
 
Agar dapat mewujudkannya, pemain harus memahami benar karakter yang dikehendaki penulis lakon drama. Untuk itu, dia perlu menafsirkan, membanding-bandingkan, dan menyimpulkan watak tokoh yang akan diperankan, lalu mencoba-coba memerankannya. Hal ini harus dilakukan supaya penampilannya benar-benar seperti tokoh yang diperankan, tepat seperti tokoh sesungguhnya.  
 
Dalam meleburkan diri menjadi tokoh yang diperankannya pemain dibantu oleh penata rias, penata busana, dan akting. Misalnya, jika tokoh yang diperankannya orang tua yang sabar, wajahnya dihias dengan garis-garis hitam yang mengesankan keriput, rambutnya ditebari bedak hingga tampak memutih. Kalau tokoh itu orang desa yang sederhana, pakaiannya menyesuaikan, misalnya memakai kemeja agak lusuh, bersarung, bersandal, serta berkopiah.  Gerakannya lambat-lambat dengan posisi badan agak membungkuk. 
 
Demikian pula kalau sedang berbicara, harus diupayakan bicaranya pelan dan (kalau bisa) suaranya agak serak. Kalau perlu, kadang-kadang dibuat terbatukbatuk. Unsur-unsur pendukung itu (tata rias, tata busana, dan akting) satu dan lain tidak bisa dipisahkan. Semuanya saling mendukung untuk membantu mewujudkan karakter tokoh seperti yang dikehendaki oleh penulis lakon drama.  
 
2. Dialog 
Jalan cerita lakon drama diwujudkan melalui dialog (dan gerak) yang dilakukan para pemain. Dialog-dialog yang dilakukan harus mendukung karakter tokoh yang diperankan dan dapat menunjukkan alur lakon drama. Melalui dialog-dialog antarpemain inilah penonton dapat mengikuti cerita drama yang disaksikan. Bahkan bukan hanya itu, melalui dialog itu penonton dapat menangkap halhal yang tersirat di balik dialog para pemain. Oleh karena itu, dialog harus benar-benar dijiwai oleh para pemain sehingga sanggup menggambarkan suasana. Dialog juga harus berkembang mengikuti suasana konflik dalam tahap-tahap alur lakon drama.  
 
3. Konflik 
Konflik dalam pementasan tidak terlepas dari kehadiran tokoh yang bertentangan satu dengan lainnya. Dalam hal ini, konflik yang hadir dapat berupa pertentangan tokoh dengan dirinya sendiri, pertentangan dengan orang lain, bahkan konflik dengan alam sekitar atau pandangan tertentu.  
 
Pada segi pementasan drama, konflik akan lebih jelas terlihat dibandingkan dengan saat kita membaca naskahnya. Gerakan atau tindakan para tokoh, juga melalui dialog yang diucapkan dapat membentuk suatu peristiwa. Peristiwa ini berasal dari hal yang biasa sampai konflik yang memuncak. Hal yang patut diperhatikan adalah peristiwa konflik tidak terjadi begitu saja. Dalam hal ini, peristiwa  yang satu akan mengakibatkan peristiwa yang lain. 
 
Peristiwa yang terjadi karena tindakan tokoh tersebut dikenal dengan motif. Motif ini berhubungan langsung dengan alasan setiap tokoh mengambil tindakan tersebut.  Motif dapat muncul dari berbagai sumber, antara lain sebagai berikut. 
a. Kecenderungan-kecenderungan dasar (basic instinct) yang dimiliki manusia, misalnya kecenderungan agar dikenal untuk memperoleh suatu pengalaman tertentu. 
b. Situasi yang melingkupi manusia, yaitu keadaan fisik dan keadaan sosial. 
c. Interaksi sosial, yaitu rangsangan yang ditimbulkan karena hubungan sesama manusia. 
d. Watak manusia itu sendiri, sifat-sifat intelektual, emosional, persepsi, resepsi, ekspresi, serta sosial kulturalnya. 
 
Dengan mengetahui motif, pembaca akan mendapat dasar yang lebih kuat dalam menginterpretasikan suatu laku atau suatu peristiwa dalam drama.  Agar lebih memahami pembelajaran ini, pentaskanlah penggalan drama berikut oleh tiga orang di antara Anda. Selama penggalan naskah drama ini dipentaskan, tutuplah buku Anda. Cermatilah halhal yang berhubungan dengan perwatakan, dialog, dan konflik yang ada di dalamnya.
Read More - > Mengidentifikasi Pementasan Drama

> Mengungkapkan Hasil Wawancara

By :Taufiqullah Neutron (Masteropik)

Kegiatan berwawancara adalah kegiatan menggali berbagai informasi. Misalnya, kita dapat tahu informasi program pemerintah melalui wawancara dengan pejabat negara. Kegiatan memahami wawancara merupakan hal yang diperlukan agar kita bisa tahu perkembangan informasi.  
 
Setelah Anda mempelajari cara merangkum isi wawancara di bagian A, sekarang Anda akan belajar menjelaskan isi wawancara dengan bahasa Anda sendiri. Dari sebuah wawancara, Anda dapat menemukan tanggapan yang dikemukakan oleh narasumber. Dalam hal ini, Anda hendaknya dapat memahami bahwa narasumber pun mempunyai pandangan tersendiri atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pewawancara.
  
Berdasarkan wawancara dengan Linda Christianty dalam subbab A, dapat dikemukakan tanggapan terhadap seputar dunia kreativitas sebagai berikut.  Linda Christanty menganggap bahwa sumber dalam berkarya adalah kehidupan sehari-hari. 
 
Dalam hal ini, realitas ini sendiri. Adapun dalam pengerjaan sebuah cerpen, ia mempunyai teknik bekerja cepat dan ada yang lama. Selanjutnya, tanggapan dia terhadap kesulitan berkarya adalah masalah dunia ide yang harus dikeluarkan saat kita menulis. 
Pada waktu masih kecil, ia pernah merasa bingung bagaimana mengungkapkan suasana dalam cerita yang dikarangnya.  Untuk melatih membuat karya cerita, ia memang sejak kecil menulis. Kemudian, ia mulai menulis fiksi dalam bentuk cerpen waktu SMP di mading (majalah dinding). 
 
Ketika SMA, ia menulis juga. Caranya, ia membaca banyak buku. Adapun obsesinya di masa datang adalah ingin menulis novel. Sementara itu, ia melihat kecenderungan karakter yang ada dalam cerpen-cerpennya adalah bahwa karakterkarakter yang harusnya lebih berkembang dan itu mungkin tidak akan atau tidak bisa berkembang hanya dalam sebuah cerpen yang hanya satu halaman dengan sekian ribu kata.
Read More - > Mengungkapkan Hasil Wawancara

> Mendengarkan Isi Wawancara

By :Taufiqullah Neutron (Masteropik)

Pada dasarnya, wawancara merupakan percakapan antara dua orang. Seorang yang bertanya dan seorang yang menjawab. Proses wawancara tidak jauh berbeda dengan percakapan sehari-hari yang sering Anda lakukan. 
Dengan demikian, dalam kegiatan wawancara, keduanya mengalami kegiatan mendengarkan dan berbicara.  Lihatlah beragam berita yang disiarkan berita televisi setiap hari. Selain reportase, bahan berita bersumber dari wawancara. Wawancara memang kegiatan penting untuk mengetahui informasi. Apakah Anda pernah bercita-cita menjadi reporter? 
 
Anda dapat melakukannya dengan belajar tekun memahami wawancara.  Jika Anda perhatikan siaran radio dan televisi, biasanya ada tayangan khusus wawancara. Hal ini terutama terkait dengan peristiwaperistiwa yang sedang aktual. Berdasarkan perilaku mendengarkan/ menyimak, terdapat dua tipe perilaku dalam kegiatan mendengarkan/ menyimak wawancara, yaitu sebagai berikut.  
 
1. Menyimak Faktual 
Menyimak faktual berarti menangkap serta memahami faktafakta, konsep-konsep, serta informasi yang disampaikan pembicara. Pada saat kita menyimak, kita mencoba menangkap ide-ide pokok, gagasan-gagasan penting sang pembicara atau narasumber. Kegiatan yang dilakukan saat menyimak faktual adalah: 
a. memusatkan perhatian pada pesan-pesan orang lain; 
b. berusaha mendapatkan fakta-fakta.  
 
2. Menyimak Empatik 
Menyimak empatik menolong kita untuk memahami sikap psikologis dan emosional sang pembicara/narasumber dan bagaimana sikap tersebut memengaruhi ujarannya. Menyimak empatik ini dapat juga disebut menyimak aktif atau menyimak pemahaman. 
 
Setiap pesan berisi dua bagian, yaitu isi atau materi faktual dan perasaan  atau sikap pembicara terhadap isi tersebut. Kegiatan yang dilakukan saat menyimak empatik adalah: 
a. memperhatikan isyarat-isyarat nonverbal (gerak-gerik anggota tubuh); 
b. menempatkan diri pada posisi orang lain; 
c. memusatkan perhatian pada pesan, bukan pada penampilan.
Read More - > Mendengarkan Isi Wawancara

> Menyusun Teks Pidato

By :Taufiqullah Neutron (Masteropik)

Pidato adalah penyampaian dan penanaman pikiran, informasi, atau gagasan dari pembicara kepada khalayak ramai. Pidato biasanya disampaikan secara lisan dalam acara-acara resmi, seperti peringatan hari bersejarah, perayaan hari besar, atau pembukaan suatu kegiatan. 
Untuk dapat berpidato dengan baik harus mempersiapkan materi pidato yang akan disampaikan. Materi pidato tersebut dapat disusun secara lengkap atau hanya pokok-pokoknya saja. Ada tiga langkah utama yang perlu diperhatikan dalam menyusun naskah pidato, yakni meneliti masalah, menyusun uraian, dan melakukan latihan.  
 
1. Meneliti Masalah 
a. Menentukan Topik dan Tujuan Pidato Topik pembicaraan merupakan persoalan yang dikemukakan. Topik yang akan disampaikankan hendaknya menarik perhatian pembicara dan pendengar. 
Adapun tujuan pembicaraan berhubungan dengan tanggapan yang diharapkan dari para pendengar. Contoh: Topik : Bahaya rokok bagi kesehatan Tujuan umum : Sosialisasi Tujuan khusus : Memberikan penjelasan untuk mensosialisasikan bahaya rokok bagi kesehatan, baik bagi perokok maupun orang-orang di sekitarnya.  
 
b. Menganalisis Pendengar dan Situasi Menganalisis pendengar dan situasi dilakukan untuk mengetahui siapa pendengarnya dan dalam situasi apa pidato itu akan disampaikan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menganalisis pendengar adalah sebagai berikut. 
1) Maksud pengunjung mendengarkan uraian pidato. 
2) Adat kebiasaan atau tata cara kehidupan pendengar. 
3) Tempat acara berlangsung.  
c. Memilih dan Menyempitkan Topik Topik yang terlalu luas dapat kita batasi agar lebih fokus dan pembahasan lebih terarah.  
 
2. Menyusun Uraian 
a. Mengumpulkan Bahan Untuk dapat menyusun pidato, kita harus mengumpulkan bahan yang diperlukan sesuai dengan topik pembicaran. Banyak sumber yang dapat dijadikan bahan pidato, seperti bahan bacaan, hasil mendengarkan, atau pengalaman yang berkesan.  
b. Membuat Kerangka Uraian Membuat kerangka uraian (sama halnya dengan kerangka karangan) akan memudahkan kita untuk menyusun naskah pidato. Bahan-bahan yang telah kita peroleh disusun sesuai dengan kerangka uraian.  
c. Menguraikan secara Mendetail Naskah pidato dapat diuraikan secara lengkap sesuai dengan kerangka yang telah dibuat. Dalam penyusunan naskah hendaknya kita menggunakan kata-kata yang tepat dan efektif sehingga memperjelas uraian.  
 
3. Berlatih Berpidato 
Jika kita belum terbiasa tampil di depan umum, latihan berbicara sangatlah perlu. Kita dapat melatih intonasi, pengucapan, ataupun gaya saat berpidato. 
 
Kita juga dapat menentukan metode berpidato yang akan digunakan. Berikut metode pidato yang dapat digunakan setelah kita mempersiapkan naskah pidato. 
 
a. Metode Menghafal Berpidato dengan metode menghafal dilakukan dengan cara menghafalkan naskah pidato yang telah disusun. Metode ini memang sedikit merepotkan karena kita harus menghafalkan kata demi kata. Pidato dengan metode ini dapat digunakan untuk pidato pendek dalam situasi yang resmi.  
 
b. Metode Naskah Metode ini sering dipakai dalam pidato resmi. Kita tampil berpidato dengan cara membacakan naskah yang telah disusun. Metode dengan membaca naskah agak kaku. Apalagi jika belum terbiasa, pandangan mata kita hanya difokuskan pada naskah, sedangkan pendengar terabaikan.  
 
c. Metode Ekstemporan Metode ini dianggap paling ideal. Dalam metode ini, pembicara menyiapkan sebuah naskah yang lengkap untuk disampaikan dalam pidato, akan tetapi pada pelaksanaannya naskah tersebut tidak dibaca seperti pada metode naskah. Naskah pidato berfungsi sebagai catatan materi yang akan disampaikan. Pembicara akan berbicara secara bebas tanpa membaca naskah itu. Adapun struktur penulisan naskah pidato terdiri atas bagian pembuka, isi, dan penutup.
Read More - > Menyusun Teks Pidato
back to top